Pages

Jumat, 01 Mei 2015

Kematian Hati

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu. Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Kamis, 12 Juni 2014

Burung yang Tak Mau Terbang


Dikisahkah ada seekor burung elang hidup dipuncak salah satu gunung. Dia membuat sarang pada salah satu puncak pepohonan. Di dalam sarang burung itu ada empat telur. Kemudian, terjadi gempa bumi yang dashyat, sehingga sebutir telur jatuh dari sarangnya dan mnggelinding sampai ditempat tinggal para ayam.

Jumat, 06 Juni 2014

Kisah Arloji yang Hilang




Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama.

Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Sabtu, 31 Mei 2014

Kisah Guru Bijak dan Sebuah Ember


Seorang profesor memasuki ruang kuliah sambil membawa ember transparan berukuran sedang, batu-batu besar, kerikil, pasir dan air. Kemudian profesor mata kuliah filosofi itu memasukkan batu-batu besar ke dalam ember, satu per satu hingga ember itu penuh oleh batu- batu berukuran besar. Semua mahasiswa heran dan memperhatikan dengan seksama. Kemudian sang profesor mengajukan satu pertanyaan. “Apakah ember ini sudah tidak dapat diisi lagi?” tanya profesor memecah keheningan.
Para mahasiswa serentak menjawab, “Ya. Masih bisa,” meskipun mereka melihat ember itu sudah penuh. Profesor itu tersenyum, lalu menuangkan kerikil ke dalam ember itu hingga tak tersisa satu kerikilpun di luar. “Apakah kalian kira ember ini sudah tidak dapat diisi lagi?” tanya profesor. Para mahasiswa agak bingung. Mereka ragu-ragu. Suara mereka mulai terpecah. Sebagian mengatakan, “Tidak. Ember sudah penuh!” Sementara yang lain mengatakan, “Masih bisa.”

Minggu, 25 Mei 2014

Kisah Sang Tukang Kayu




Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kontruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.

Senin, 12 Mei 2014

A Lesson for the Tiger


A Long time ago, all animals had a king. Their king was the tiger. All animals were afraid of him. The tiger was the strongest among them. He was also very mean. He would hit any animals when they disobeyed him.
One day they wanted to give the tiger a lesson.
"Listen friends, we need to find a way. The tiger is also cruel especially to weak animals like me," said the rabbit.
"I have an idea," said the mouse deer. "He is not clever as he looks. I think I can trick him," said the mouse deer.
"How will you trick him?" asked the rabbit.
"It's easy. You meet the tiger and tell him that I challenge him to fight."
"What? Are you kidding? You cannot win!" said the rabbit.

Kerinduan




Hari ini engkau lahir, empat belas abad yang lalu
Penuh senyum, penuh harum
Wangimu tercium waktu
Engkaupun melangkah, hiasi sepimu dengan kerja,
dalam cinta
Engkaupun temani zaman, mengulur tangan kebenaran,
dalam setia
Menuntun manusia dengan kearifan, dalam percaya
Memapah manusia ke rumah bahagia, dalam makna
Ruang pun tertunduk penuh sahaja.